Jumat, 06 Januari 2012

IDENTIFIKASI KESALAHAN PENYUSUNAN KALIMAT PADA TEKS BERITA YANG DITULIS OLEH SISWA KELAS VIII SEMESTER II SMPN 3 WOJA TAHUN PELAJARAN 2011-2012

Disusun Oleh :

TRISNAWATI
NIM: BI.09.01.115

 JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
 SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
YAYASAN PENDIDIKAN ISLAM
(STKIP YAPIS ) DOMPU
2011

2.      LATAR BELAKANG
Bahasa adalah salah satu media yang digunakan untuk menyampaikan dan memahami gagasan, pikiran dan pendapat. Bahasa juga merupakan media komunikasi  utama didalam   kehidupan   manusia   untuk   berinteraksi  (Surahman, 1994 : 144).
Melalui bahasa kehidupan suatu bangsa dapat dibentuk, dibina dan dikembangkan  serta dapat diturunkan kepada generasi mendatang. Dengan adanya bahasa sebagai alat komunikasi maka semua yang ada disekitar manusia , seperti peristiwa, binatang, tumbuhan, dan sebagainya mendapat tanggapan dalam pikiran manusia, disesuaikan dan diungkapkan kembali kepada orang lain sebagai bahan komunikasi ( Kraf 1987 : 1 ).
Bahasa Indonesia telah ditetapkan sebagai bahasa negara sebagaimana yang telah ditetapkan didalam UUD 1945 dalam pasal 36 yang mengatakan bahasa negara adalah bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia juga sebagai bahasa resmi kenegaraan, bahasa pengantar resmi lembaga-lembaga pendidikan dan pelaksana pembangunan pemerintah serta sebagai bahasa resmi dalam pengembangan kebudayaan. Selain itu bahasa Indonesia memiliki kedudukan sebagai bahasa nasional yang memiliki fungsi sebagai lambang kebanggaan  nasional, lambang identitas nasional, alat pemersatu berbagai macam masyarakat yang memiliki perbedaan latar belakang sosial,budaya dan bahasanya dan sebagai alat penghubung antar daerah. (Sugono, 1994 : 3 )
Di dalam dunia pendidikan selain digunakan sebagai bahasa pengantar bahasa Indonesia juga termasuk mata pelajaran yang harus diajarkan disemua jenjang pendidikan formal yang sekarang dikenal dengan mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Dalam pengajaran bahasa dan sastra Indonesia diharapkan siswa mampu menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik dalam bahasa lisan maupun bahasa tulis dalam artian siswa siswi mampu menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi dan mampu menulis kata-kata dan kalimat dengan tata cara yang baik dan benar.
Kaitannya dengan hal diatas serta mengacu pada petunjuk pelaksanaan proses belajar mengajar seperti yang telah dijelaskan dalam GBPP 1994 bahwa dalam proses belajar mengajar pelajaran bahasa dan sastra Indonesia ada 4 (empat) keterampilan bahasa yang harus dikembangkan oleh siswa (Depdikbud, 1993:3). Ini berarti bahwa, kemampuan siswa siswi terhadap keempat komponen bahasa harus segera dikembangkan sedini mungkin. Adapun keempat keterampilan bahasa itu adalah : berbicara, menyimak, membaca dan menulis. Selain itu ada komponen-komponen bahasa yang harus juga dikembangkan yaitu mengenai struktur, perbendaharaan kata dan tata bunyi.
Dalam GBPP 1994 ditekankan pengajaran bahasa Indonesia pada kegunaan praktis, siswa diharapkan lebih banyak berperan dalam proses belajar mengajar sedangkan guru berperan sebagai motivator. Siswa ditekankan untuk berlatih secara mandiri terutama dalam meningkatkan kemampuan berbicara dan menulis.
Kemampuan berbicara dan menulis sangat ditekankan karena hal tersebut memegang peranan penting didalam proses pembelajaran. Dengan memiliki kemampuan berbicara siswa dapat berkomunikasi secara langsung melalui bahasa lisan didalam menanggapi segala permasalahan yang ada pada waktu proses belajar mengajar berlangsung, sedangkan dengan memiliki kemampuan menulis siswa dapat menuangkan pikiran, gagasan, perasaan dan sebagainya didalam berkomunikasi secara tidak langsung dalam artian siswa dapat menulis dengan kalimat-kalimatnya sendiri apa yang kiranya perlu ditulis dari penjelasan atau paparan yang disampaikan oleh guru didalam proses belajar mengajar berlangsung.
Yang perlu diperhatikan oleh para siswa dalam membuat karya tulis, baik berupa essay, artikel, ataupun analisis yang bersifat ilmiah adalah penggunaan bahasa secara tepat, yaitu memakai bahasa baku. Hendaknya disadari bahwa susunan kata yang tidak teratur dan berbelit-belit, penggunaan kata yang tidak tepat makna, dan kesalahan ejaan dapat membuat kalimat tidak efektif.
Dalam proses belajar mengajar khususnya dalam meningkatkan kemampuan menulis, seorang guru perlu menentukan srategi yang tepat di dalam mengajarkan tentang menulis, karena menulis merupakan salah satu keterampilan diantara empat keterampilan bahasa yang penting untuk segera dikuasai oleh siswa. Seorang siswa yang memiliki kemampuan menulis akan dengan mudah menuangkan perasaan, pikiran dan gagasannya secara teratur sebagaimana  yang ditegaskan oleh Morsey ( 1976: 122 ) dalam Tarigan  1994 : 4  menulis digunakan oleh seorang terpelajar untuk mencatat atau merekam, melaporkan atau memberitahukan dan mempengaruhi maksud serta tujuan yang seperti itu hanya dapat dicapai dengan baik oleh orang-orang yang dapat menyusun pikirannya dan dapat mengutarakannya dengan jelas, kejelasaan ini tergantung pada pikiran dan struktur kata-kata dan kalimatnya.
Berdasarkan pendapat di atas jelaslah bahwa kemampuan mengembangkan kalimat dalam menulis sangatlah penting, karena melalui tulisan segala sesuatu yang ada di sekitar manusia dapat diungkapkan dan dikomunikasikan secara tidak langsung. Keterampilan menulis menurut keterampilan di atas dapat dianggap sebagai salah satu ciri-ciri orang yang terpelajar. Dikatakan begitu karena orang yang terpelajarlah yang mampu dan dapat menuangkan gagasan dan maksud serta pikirannya melalui tulisan yang baik dan benar.

3.      RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dipaparkan di atas dapat dirumuskan perumusan masalahnya Bagaimanakah cara mengidentifikasi Kesalahan Penyusunan Kalimat yang terdapat pada teks berita yang ditulis oleh siswa kelas VIII Semester II SMPN 3 Woja Tahun Pelajaran 2011-2012.
4.      TUJUAN PENELITIAN
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini tentu sesuai dengan apa yang menjadi masalah dalam penelitian ini. Jadi tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah, untuk mengidentifikasi kesalahan penyusunan kalimat pada teks berita yang ditulis  oleh siswa kelas VIII semester II SMPN 3 Woja Tahun Pelajaran 2011-2012.
5.      MANFAAT PENELITIAN
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat baik secara teoritis maupun secara praktis.
1.      Manfaat secara teoritis
       Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan kajian ilmu pengetahuan, penambahan wawasan sereta sebagai salah satu perbendaharaan ilmu pengetahuan dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia untuk menigkatkan kemampuan.
2.      Manfaat secara Praktis.
       Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi para guru yang mengajarkan pelajaran Bahasa dan Sastra indonesia sebagai bahan pertimbangan dan bahan acuan dalam meningkatkan kemampuan siswa dan mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada dalam proses pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.
6.      HIPOTESIS
Hipotesis adalah suatu anggapan sementara yang perlu dibuktikan kebenarannya melalui penelitian. Adapun hipotesis yang diajukan dalam penulisan ini adalah hipotesis  alternative (Ha) yang berbunyi :
a.         Diduga terdapat kemampuan menyusun kalimat pada teks berita pada siswa kelas VIII smester II SMPN 3 Woja tahun pelajaran 2011-2012.
b.         Diduga bahwa terdapat kesalahan penyusunan kalimat teks berita dapa mata pelajaran pendidikan Bahasa Indonesia di SMPN 3 Woja.
Terdapat Korelasi Antara Kemampuan Sosialisai Diri Siswa dengan Tingkat Prstasi Belajar Bahasa Indonesia pada  SMA Negeri 1 Manggelewa Kabupaten Dompu Tahun Pelajaran 2011/2012..
7.      LANDASAN TEORI

A.  Pengertian Kalimat dan Ide Kalimat

1.         Pengertian kalimat
Kalimat merupakan suatu masalah yang sintaksis yang sudah cukup lama dipermasalahkan oleh para ahli bahasa. Namun pembukuan dalam bidang sintaksis masih terus dibicarakan bahkan tidak akan pernah selesai dan tidak akan pernah berakhir kalau tidak dihentikan. Hal ini disebabkan oleh sifat Bahasa Indonesia yang dinamis, sehingga sewaktu-waktu akan menimbulkan adanya perubahan dan penyimpangan terhadap kaidah-kaidah yang telah ditetapkan sebelumnya.
Sehubungan dengan masalah kalimat banyak para ahli memberikan  pendapat, diantara para ahli bahasa tersebut ada yang memiliki pendapat.
1.    M. Muliono (2000 : 311) mengatakan bahwa kalimat adalah suatu bahasa terkecil dalam wujud lisan atau tulisan yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Dalam wujud lisan, kalimat diucapkan dengan suara naik turun dan keras lembut, disela jeda dan diakhiri dengan intonasi akhir yang diikuti oleh kesenyapan yang mencegah terjadinya perpaduan ataupun asimilasi bunyi ataupun proses ponologis lainnya. Dalam wujud tulisan hurup latin kalimat dimulai dengan hurup kapital dan diakhiri dengan tanda titik (.), tanda tanya (?), tanda seru (!); sementara itu, didalamnya disertakan pula berbagai tanda baca seperti koma (,), titik dua (: ), tanda pisah (-) dan spasi. Tanda titik, tanda tanya dan tanda seru sepadan dengan intonasi akhir, sedangkan tanda baca lainnya sepadan dengan jeda. Spasi yang mengikuti tanda titik, tanda tanya, tanda seru, melambangkan kesenyapan.
2.    Sugono (1987 : 24) menyatakan : Setiap pernyataan termasuk kalimat atau bukan persyaratan yang pokok yang perlu diperhatikan adalah unsur predikat dan permutasian unsur kalimat. Yang dikatakan kalimat dalam struktur lahirnya sekurang-kurangnya memiliki unsur predikat. Dengan kata lain, jika sebuah pernyataan memiliki predikat, pernyataan itu merupakan kalimat, sedangkan suatu unsur kata yang tidak memiliki unsur predikat itu bukan kalimat melainkan disebut frase berdasrkan ketata bahasaan.
3.    Kraff (1984) berpendapat bahwa kalimat adalah suatu bagian ujaran yang didahului oleh kesenyapan sedangkan intonasinya menunjukkan bahwa bagian ujaran itu sudah lengkap.
4.    Wiyanto (1986 : 111) mengatakan bahwa : Kalimat adalah suatu bagian ujaran yang didahului oleh kesenyapan sedangkan intonasinya menunjukkan bahwa bagian ujaran itu sudah lengkap. Jadi setiap kalimat yang diucapkan selalu didahului oleh kesenyawaan dan diakhiri oleh kesnyawaan. Dalam bahasa tulis kalimat selalu dimulai dengan hurup kapital dan diakhiri dengan tanda titik, tanda tanya dan tanda seru, itu merupakan ciri lahirnya kalimat. Selain mempunyai ciri lahir, kalimat juga mempunyai ciri batin yaitu sebuah kalimat selalu mengandung arti.
Pada dasarnya, dari sekian pendapat yang telah dikemukakan oleh para ahli semuanya memiliki maksud yang sama yaitu kalimat merupakan suatu kesatuan yang terbentuk dari komponen-komponen atau bagian-bagian yang berupa kata-kata atau proses yang saling berhubungan dan saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya, dimana antara komponen-komponen atau bagian-bagian tersebut memiliki kedudukan dan jabatan tertentu, komponen-komponen itu ada yang menduduki sebagai subjek, predikat, objek dan keterangan atau keterangan pelengkap. Jadi kalimat merupakan satuan beberapa kata yang mengungkapkan pikiran secara utuh dalam bentuk ketatabahasaan seperti yang telah dijelaskan diatas. Dalam bahasa lisan kalimat diiringi oleh alunan titik nada disela oleh jeda dan diakhiri oleh intonasi selesai sedangkan dalam bahasa tulis kaalimat dimulaai dengan hurup kapital atau hurup besar dan diakhiri dengan tanda titik, tanda tanya dan tanda seru dan didalam dilengkapi oleh tanda koma, titik dua dan tanda seperti sepasang garis pendek yang mengapit bentuk-bentuk tertentu serta tanda pisah atau spasi.
2.    Pengertian kalimat efektif
-            Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mewakili gagasan pembicara atau penulis serta dapat diterima maksudnya/arti serta tujuannya seperti yang di maksud penulis /pembicara
-            Kalimat efektif adalah kalimat yang mengungkapkan pikiran atau gagasan yang disampaikan sehingga dapat dipahami dan dimengerti oleh orang lain (http://adegustiann.blogsome.com /2009/02/02/ pengertian-ciri-dan-penggunaan-kalimat-efektif/)
-            Kraf (1997 : 35) mengemukakan bahwa “ sebuah kalimat yang efektif mempersoalkan bagaimana ia dapat mewakili secara tepat isi pikiran atau perasaan pengarang, bagaimana ia dapat mewakili secara segar dan sanggup menarik perhatian pembaca dan pendengar terhadap apa yang dibicarakan.
Dari beberapa pengertian kalimat efektif diatas dapat disimpulkan bahwa, kalimat efektif adalah kalimat yang dapat dilakukan untuk menjadikan kalimat sebagai sarana menangkap dan mengungkapkan pesan agar komunikasi terjadi secara efektif.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                       
3.    Jenis Kalimat
Berbicara masalah jenis kalimat, tentu banyak macamnya tergantung dari sudut mana kita lihat. Untuk membedakan jenis kalimat dapat ditinjau melalui empat sudut pandang yaitu dari :
a.              Jumlah Klausa
Ditinjau dari jumlah klausanya kalimat dibagi dua yaitu kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Kalimat tunggal adalah kalimat yang terdiri atas satu klausa. Hal ini  berarti bahwa konstikuen untuk setiap unsur kalimat, seperti subjek dan predikat, hanyalah satu dan merupakan satu kesatsuan dan disamping itu, tidak mustahil ada pula unsur lain seperti keterangan tempat, waktu, dan alat. Dengan demikian, kalimat tunggal tidak selamnya harus pendek tetapi bisa juga panjang.
Contoh :          
-          Dia bekerja di bank
-          Guru matematika kami akan dikirim ke luar negeri
Kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri atas dua klausa atau lebih. Kalimat majemuk dibagi dua yaitu kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat. Kalimat majemuk setara adalah kalimat majemuk yang diantara kedua kalau hanya terjadi hubungan koordinatif.
Contoh :
-            Dia pergi danistrinya mulai mengus
-            Kita pergi sekarang atau kita akan kehabisan karcis.
Kalimat majemuk, bertingkat adalah kalimat yang apabila terjadi hubungan subordinatif yakni kalimat yang satu merupakan induk, sedangkan yang lain merupakan keterangan tamabahan.
Contoh :
-    Dia pergi sebelum istrinya menagis
-        Saya bersedia miskipun dia menolak melakukannya.
Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat yang apabila terjdi hubungan subordinatif yakni
b.         Bentuk Sintaksis
Dilihat dari bentuk dankatagori sintaksisnya, dapat dibagi menjadi empat yaitu kalimat dekloratif, kalimat interogatif, kalimat imparatif dan kalimat eksklamatif.
Kalimat deklaratif dikenal juga dengan nama kalimat deklaratif umumnya digunakan oleh pembicara atau penulis untuk membuat pernyataan sehingga isinya merupakan berita bagi pendegar atau pembacanya. Misalnya kita melihat suatu kecelakaan lalu lintas dan kita menyampaikan kejadian itu kepada orang lain, maka kita dapat menyampikan kejadian itu dengan menggunakan bermacam-macam bentuk kalimat dekloratif
Contoh :
-          Tadi pagi ada tabrakan mobil di dekat sekolah
-          Saya melihat ada bus jatuh ke jurang tadi pagi
Kalimat berita dapat berbentuk  apa saja, asalkan isinya merupakan pemberitahuan, dalam bentuk tulis kalimat berita diakhiri dengan tanda titik. Dalam bentuk lisan, suara berahir dengan nada turun.
c.       Kelengkapan Unsurnya
Dilihat dari kelengkapaan unsur-unsurnya kalimat dibedakan menjadi dua yaitu kalimat lengkap dan kalimat tak lengkap. Kalimat lengkap adalah kalimat-kalimat yang memiliki unsur waji dalam sebuah kalimat yaitu subjek dan predikat. Kalimat tak lengkap ialah disebut juga dengan kalimat monor. Kalimat tak lengkap pada dasarnya adalah kalimat yang tidak ada subjek atau tidak ada predikatnya. Hal itu bisa terjadi dalam wacana karena unsur yang tidak muncul itu sudah diketahui atau sudah disebut sebelumnya perhatikan contohnya berikut :
Amir : kamu tinggal dimana, Min ?
Amin : di kampung Melayu
Bentuk “di kampung melayu” sebenarnya merupakan bagian dari bentuk. Kalimat lengkap, saya tinggal di kampung melayu. Di luar kontek wacana kalimat tak lengkap sering juga digunakan di iklan papan pengumuman, atau selogan, misalnya :
-          Hidup atau mati
-          Belok kiri boleh langsung
-          Apa kabar ?
-          Sampai jumpa lagi
d.      Susunan Subjek dan Predikatnya
Dilihat dari susunan unsur subjek dan predikatnya, kalimat dapat dibedakan menjadi dua yaitu kalimat biasa dan kalimat invensi. Kalimat biasa adalah kalimat yang unsur-unsurnya teratur, mulai dari subjek, peredikat, objek (jika ada) dan pelengkap (jika ada). Sedangkan kalimat inverensi ialah susunan kalimat yang unsur perdikatnya mendahului unsur subjek.
Contoh : K.B.  Pak, ada tamu
                  K.I Ada Tamu     
Kalimat ini hampir mirip dengan kalimat permutasi, tetapi kalimat permutasi hanya merupakan salah satu gaya yang dapat dipilih dari urutan yang baku. Berikut contoh permutasian
Contoh : Dia terpaksa tinggal kelas
 menjadi
Terpaksa tinggal kelas, dia
1.        Pengertian Ide Kalimat
Berbicara masalah ide tentu kita akan berpikir mengenai rancangan atau gagasan tentang apa yang akan dilakukan atau yang akan dilaksanakan agar mendapatkan hasil yang diinginkan atau yang diharapkan. Di dalam kamus besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa ide itu merupakan rancangan yang tersusun di dalam pikiran, gagasan atau cita-cita yang bagus tetapi sukar untuk dilaksanakan. Sementara kalimat adalah seperti apa yang telah dijelaskan di atas bahwa kalimat itu adalah suatu bagian ujaran yang mengungkapkan suatu konsep atau pikiran dan perasaan yang berdiri sendiri yang mempunyai intonasi final dan secara aktual ataupun potensial terdiri dari klausa.
Jadi berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa ide kalimat adalah gagasan atau rancangan yang telah tersusun di dalam pikiran yang hendak diungkapkan atau diucapkan baik secara lisan atau tertulis dalam bentuk kalimat. Kalimat tergantung  dari apa yang ada dalam pikiran penuturnya, apakah dia akan menggunakan kalimat berita, kalimat tanya atau kalimat perintah.
2.      Unsur-Unsur Kalimat
Sebelumnya di atas sudah dijelaskan mengenai kalimat di sana dijelaskan bahwa, sebuah kalimat baru dikatakan sebagai kalimat apabila di dalamnya sekurang-kurangnya hanya terdiri dari unsur subjek dan unsur prediket. Sehubungan dengan hal ini Sugono (1997:32) mengatakan bahwa : setiap kalimat dalam struktur lahirnya sekurang-kurangnya memiliki subjek dan pradikat dengan kata lain, jika suatu pernyataan memiliki predikat maka pernyataan itu disebut kalimat, sedangkan suatu untaian yang tidak memiliki pradikat disebut frase.
Berdasarkan penjelasan diatas, jelaslah bahwa sebuah kalimat itu terdiri atas unsur-unsur, dan unsur-unsur kalimat itu adalah subjek, predikat, objek, keterangan dan keterangan pelengkap.

B.  Kemampuan Menyusun Kalimat

Kemampuan berasal dari kata mampu yang berarti sanggup melakukan sesuatu. Menurut Poerwadarmita (1985:628) mengatakan bahwa kemampuan diartikan sebagai kesanggupan atau kecakapan untuk melakukan sesuatu. Jadi yang dimaksud dengan kemampuan adalah kesanggupan, kecakapan, kekuatan untuk melakukan sesuatu kepintaran, bakat dan kekuatan mental. Selanjutnya pengertian menyusun atau membuat kalimat yaitu : mengatur atau menempatkan sekelompok kata yang terdiri atas subyek, predikat,objek dan kata keterangan dengan mematuhi kaidah-kaidah yang berlaku didalam membuat kalimat.
Kemampuan membuat kalimat baik berupa kalimat berita, kalimat tanya, kalimat seru dan lain-lain, itu berarti suatu kemampuan didalam melakukan atau menggunakan kata didalam menyusun suatu kalimat dengan mematuhi tata cara yang berlaku didalam membuat kalimat. Selanjutnya,suatu kalimata dikatakan telah tersusun apabila dua kata atua lebih bergabung menjadi satu kesatuan sehingga mengandung sebuah makna yang sempurna. Sehubungan dengan hal ini Wiyanto (1986:116) mengatakan bahwa “ setiap kalimat yang diucapkan itu sebenarnya berupa kata atau rangkaian kata, sebab kata itulah yang mengandung makna, dari makna itu pula yang mengandung gagasan. Namun harus disadari bahwa kalimat bukan hanya sekedar kumpulan kata-kata, kata-kata itu harus dirangkaikan dengan cara-cara tertentu menurut hubungan makan tertentu pula, untuk itu diperlukan pula sarana yang dinamakan alat kalimat. Dengan alat kalimat bahan kalimat yang berupa kata menjadi kalimat, jadi alat kalimat itulah yang merangkaikan kata serta menentukan makna hubungan rangkaian yang terjadi dan disebut makna struktural”.
Dari kutipan diatas, jelaslah suatu kalimat adalah rangkaian kata-kata yang mengandung makna. Makna yang terkandung dalam suatu kalimat terkandung dari maksud dan tujuan dari penutur atau pembicara, sehingga untuk dapat menyampaikan pesan atau ide dengan baik, harus mengetahui dan menguasai bagaimana tata cara  membuat atau menyusun kalimat. Untuk dapat membuat atau menyusun kalimat yang baik maka diperlukan alat kalimat. Alat kalimat disini bagaimana penutur atau seseorang mengerti dan menguasai bagaimana tentang tata cara menempatkan suatu kata dalam menyusun suatu kalimat sesuai dengan arti dan fungsinya didalam membentuk rangkaian kalimat.
Kesimpulannya kemampuan membuat kalimat adalah bagaimana seseorang dapat merangkai beberapa kata menjadi suatu kalimat dengan memperhatikan bagian-bagian, aturan-aturan dan tata cara penulisan dan penempatan kata didalam suatu kalimat secra utuh, dalam arti memahami dan menguasai baagimana menyusun dan membuat kalimat serta menggunakannya secara baik dan benar.
C.    ­Pentingnya Kemampuan Membuat Kalimat
Kalimat merupakan suatu bentuk bahasa yang disusun berdasarkan gagasan-gagasan seseorang atau penutur secra terbuka untuk dikomunikasikan kepada orang lain. Untuk dapatberkomunikasi menggunakan kalimat yang baik dan mudah di pahami,maaka penutur atau seseorang harus memahami bagaimana cara membuat dan menyusun kata-kata menjadi sebuah kalimat yang efektif. Suatu kalimat dikatakan efektif, paling tidak kalimat tersebut mudah ditangkap dan dipahami atau dimengerti. Sehubungan dengan hal itu Kraf (1997 : 35) mengemukakan bahwa “ sebuah kalimat yang efektif mempersoalkan bagaimana ia dapat mewakili secara tepat isi pikiran atau perasaan pengarang, bagaimana ia dapat mewakili secara segar dan sanggup menarik perhatian pembaca dan pendengar terhadap apa yang dibicarakan. Kalimat yang efektif memiliki kemampuan atau tenaga untuk menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca identik dengan apa yang dipikirkan oleh pembicara atau penulis. Disamping itu kalimat efektif selalu tetap berusaha agar gagasan pokok mendapat tekanan atau penonjolan dalam pikiran pembaca atau pendengar”. Jelaslah bahwa didalam berkomunikasi keefektifan suatu kalimat sangat memegang peranan penting, karena dengan kalimat yang efektif pesan atau gagasan yang disampaikan oleh penutur dapat diterima dan mudah dipahami oleh pendengar atau pembaca.
Kalau kita cermati sesungguhnya hubungan yang terjadi antara pembicara dan pendengar merupakan suatu proses timbal balik dalam arti antara pembicara dan pendengar atau lawan bicara tejadi suatu ketergantungan. Ketergantungan yang dimaksud disini adalah bahwa antara pembicara atau penulis dengan pendengar atau pembaca akan saling memeahami apabila kalimat yang mereka gunakan memenuhi kaidah-kaidah dan pola kalimat yang baik. Pada hakikatnya berbicara atau menulis adalah menggunakan serangkaian kalimat yang saling berhubungan sehingga menimbulkan makna sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Berkaitan dnegan hal itu Wiyanto (1986:116) berpendapat sebagai berikut : “pada hakikatnya orang berbahasa itu menggunakan kalimat. Setiap kalimat yang diucapkan mengandung pengertian yakni pengertian tentang gagasn pembicara. Kalimat yang diucapkan membentuk suatu rangkaian yang berhubungan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa bahasa itu mengungkapkan serangkaian gagasan dengan menggunakan kalimat-kalimat”.
Untuk lebih jauhnya Wiyanto (1986 : 116) menegaskan tentang pentingnya memahami dan menggunakan kalimat secara benar dan efektif dalam berkomunikasi yakni mengatakan sebagai berikut :
“Meskipun orang-orang mengetahui kata-kata dan artinya seperti dalam kamus, belum tentu ia dapat menggunakan kata-kata itu dalam bahasa. Mengetahui kata dan artinya memang perlu, tetapi kata itu tidak berdiri sendiri dan tidak dapat dirangkai seenaknya, pemakaian bahasa itu harus mampu menarik kata-kata itu menjadi kalimat menurut aturan yang berlaku dalam bahasa tersebut. Untuk dapat merangkai kata atau kelompok kata menjadi sebuah kalimat, maka diperlukan keserasian unsur-unsur kalimat. Dalam sebuah kalimat minimal terdiri atas unsur subjek dan unsur predikat, kedua unsur ini merupakan unsur wajib dalam menyusun sebuah kalimat.
Dalam menggabungkan dua kata atau lebih dalam sebuah kalimat dituntut adanya keserasian unsur-unsur yang ada dalam kalimat, baik dari segi makna maupun dari segi bentuk.
Seperti yang kita lihat, pada dasarnya kalimat di buat berdasarkan pada apa yang terjadi di sekeliling kita, sehingga tidak mungkin rasanya kita temukan kalimat seperti pada contoh berikut :
a.       Batu itu memukul kuda kami
atau
b.      Kuda merokok lima butir jeruk
Keanehan bentuk kalimat yang ada pada contoh yang pertama (a) timbul karena perba “memukul” yang mesti memukul seharusnya orang sebagai pelakunya.
Kenyataan bahwa batu itu bukan orang yang menyebabkan kalimat itu terasa aneh. Pada contoh kedua (b) keanehan timbul karena perba “merokok” menuntut nomina orang sebagai pelakunya satu nomina berwujud batangan sebagai objeknya. Kenyataan bahwa “kuda kami” bukan orang dan “jaruk” tidak berbentuk batangan menyebabkan kalimat pada contoh kedua (b) juga terasa aneh.
Keanehan-keanehan yang timbul pada kedua contoh kalimat diatas disebabkan karena tidak adanya keserasian makna menyebabkan kedua kalimat itu terasa janggal.
Selain tunturan akan adanya keserasian makna pada unsur-unsur kalimat dalam membuat suatu kalimat juga dituntut keserasian bentuk diantara unsur-unsur kalimat khususnya antara nomina dan peronomina dan dalam batas tertentu antara nomina dan verba.
Penggunaan peronomina sebagai pengganti nomina atau  perasa nominal yang menyatakan orang tunduk pada kendala jumlah seperti pada contoh berikut:
a.              - pelamat banyak, tetapi tidak memenuhi syarat.
-   pelamar banyak, tetapi dia tidak memenuhi syarat.
b.             - pelamat ada, tetapi mereka tidak memenuhi syarat.
-   pelamar ada, tetapi dia tidak memenuhi syarat 
peronomina “mereka” pada contoh pertama (ai) adalah frasa (banyak) pelamat. Karena itu peronomina “dia” pada contoh kedua (b) tampak bahwa peronomina “mereka” dan “dia”. Karena frasa (ada) “pelamar” tidak jelas bermakna jamak atau tunggal. Permakian peronomina mereka atau dia pada contoh kedua (b) itu tergantung pada kontek wacana.
Dari kutipan diatas, jelaslah bahwa kemampuan menyusun dan membuat kalimat sangat penting bagi seseorang, dengan menguasai susunan kalimat yang benar seseorang akan mampu dan bisa menggunakan kalimat yang baik dan efektif dalam berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan terlebih dalam hal ini kemampuan membuat kalimat atau menyusun kalimat Bahasa Indonesia.
D.    ­­Sistem Penulisan
Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang perlu dikembangkan dalam pengajaran bahasa. Dengan memiliki kjemampuan menulis seseorang dapat menuangkan atau mengungkapkan gagasandan pikiran melalui tulisan. Agar gagasan atau pikiran yang diungkapkan melalui tulisan dapat ditangkap atau dipahami oleh pembaca, maka seorang penulis harus bisa menguasai cara-cara penulisan tanda baca dalam artian bisa menempatkan tanda baca dengan benar seperti penempatan tanda koma, tanda tanya, tanmda titik dan tanda baca lainnya. Dalam menuangkan gagasan dan pikiran dalam bentuk tulisan tidak sama dengan mengucapkan secara lisan. Ungkapan secara lisan lebih mudah dimengerti oleh lawan bicara atau pendengar,sedangkan dalam bentuk tulisan lebih sukar ditangkap atau dimengerti apa lagi kalau tidak jelas tanda bacanya.
Berkaitan dengan masalah menulis banyak para ahli mendepinisikan menulis menurut sudut pandang masing-masing sehingga menghasilkan pengertian yang berbeda-beda, diantaranya :
a.         Tarigan (1990:22) berpendapat bahwa :
“Menulis adalah merumuskan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami orang sehingga oranglain dapat membaca lambang tersebut ”.
b.         Harja ( 1996 : 2 ) berpendapat bahwa:
“Menulis adalah menjelaskan bahasa lisan dan mungkin menyotingnya atau melahirkan pikiran dan perasaan seperti mengarang, membuat surat, membuat laporan dan sebagainya”.
Dari kedua pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa menulis merupakan suatu kegiatan yang memerlukan kemampuan atau keterampilan dalam melukiskan lambang-lambang grafikyang dipahami oleh penulis bahasa dan orang-orang yang mempunyai kesamaan pemahgaman terhadap lambang-lambang bahasa tesebut. Dengan demikian tujuan menulis adalah agar tulisan yang dibuat dapat di baca serta dapat dipahami oleh orang lain yang mempunyai kesamaan pemahaman terhadap bahasa yang digunakan.
Di dalam Bahasa Indonesia telah disediakan buku pedoman bagimana cara-cara penulisan dan penggunaan tanda-tanda baca serta penggunaan hurup yang dikenal dengan “ Buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan ( EYD) “. Di dalam buku itu dijelaskan tentang tata cara pemakian huruf, penulisan kata, penulisaan unsur-unsur serapan dan pemakaian tanda baca.
Dengan memahami isi buku tersebut maka seorang penulis dapat menuangkan gagasan dan pikirannya dnegan baik dan benar, sehingga apa yang disampaikan melalui tulisan dapat dimengerti daan dipahami oleh pembaca.
E.     Penilaian Kemampuan
Penilaian kemampuan yaang dimaksudkan dibawah ini adalah penilaian kemampuan siswa. Penilaian kemampuan siswa merupakan salah satu kegiatan yang sangat perlu dilakukan di dunia pendididkan, karena dengan adanya penilaian kemampuan dapat diketahui tingkat keberhasilan dalam prosese belajar mengajar. Selain itu penilaian kemampuan siswa ini dapat memberikan umpan balik bagi para guru sebagai dasar dalam memilih tehnik, cara atau metode yang lebih baik di dalam mengadakan proses belajar mengajar selanjutnya.
Pada dasarnya tidak ada suatu metode yang lebih baik, masing-masing metode mempunyai kelemahan dan kelebihan tersendiri. Suatu metode harus disesuaikan dengan materi ytang akan dissampaikan, untuk siapa dan dimana akan digunakan. Apabila itu sudah disesuaikan maka apa yang diharapkan akan dapat tercapai daan itu semua tergantung dari pemakai atau guru. Seorang guru harus bisa memilih metode yang baik dan cocok dalam menyampaikan suatu materi pelajaran.
Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa penilaian kemampuan siswa merupakan salah satu penilaian yang wajib dilaksanakan di dalam dunia pendidikan. Sutomo mengatakan “ Pendidikan adalah memberikan penilaian terhadap proses belajar mengajar ” (1987 :7).
Di dalam dunia pendidikan, penilaian sangat diperlukan dan untuk memberikan penilaian terhadap siswa maka tentu harus mengadakan evaluasi terhadap siswa dengan mengadakan tes untuk mengukur kemampuan siswa.

8.      METODE PENELITIAN

A.    Populasi dan Sampel
Dalam mengumpulkan data, seorang peneliti harus menentukan subyek dalam penelitiannya, subyek penelitian ini dinamakan sampel. Untuk lebih jelasnya ada beberapa pengertian populasi dan sampel yang dipaparkan oleh para ahli sebagai berikut:
Nazir (1988:325) menyatakan bahwa populasi adalah : kumpulan dari individu dengan kualitas  serta ciri-ciri yang telah ditetapkan. Pendapat itu dikuatkan lagi oleh Margono (1987:110) yang mengatakan bahwa populasi adalah seluruh data yang  menjadi perhatian peneliti dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang ditentukan.
Arikunto (1996:115) mengatakan bahwa populasi adalah keseluruhan subyek penelitian. Dari beberapa pendapat yang telah dikemukakan oleh para ahli dapat disimpulkan bahwa populasi adalah gabungan dari individu atau objek yang akan diteliti.
Adapun yang dimaksud dengan sampel menurut para ahli ialah antara lain :
1.             Menurut Arikunto (1998: 11) sampel adalah sebagaian atau wakil dari populasi yang akan diteliti.
2.             Menurut Margono (1998: 121) sampel adalah sebagaian dari populasi yang akan menjadi contoh dengan menggunakan cara tertentu. Jadi dapat disimpulkan bahwa  populasi adalah : wakil atau bagian dari sekian jumlah populasi yang akan di teliti.
Dalam mengadakan suatu penelitian, seorang peneliti harus melihat jumlah populasi yang akan diteliti, apakah perlu mengambil sampel atau tidak. Untuk menentukan sampel dari populasi maka peneliti dalam penelitian ini akan mengacu pada pendapat para ahli. Para ahli mengatakan bahwa “Apabila subyeknya kurang dari 100 maka sebaiknya diambil semuaya, tidak perlu menentukan sampel sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi, sedangkan apabila subyeknya lebih dari 100 peneliti dapat mengambil 10 -15 % atau 20-25 % atau lebih tergantung dari waktu, tenaga, dana, tempat, luas pengamatan, banyak data, dan besar kecilnya resiko yang akan ditanggung peneliti”.
Dengan demikian, maka peneliti menggunakan penelitian yang bersipat populasi artinya peneliti mengambil seluruh populasi yang ada yaitu seluruh Siswa Kelas VIII Semester II SMPN 3 Woja Tahun 2011-2012 yang berjumlah 32 orang yang terdiri dari 12 laki-laki dan 20 perempuan.
B.     Instrumen Pengumpulan Data
Pada umumnya penelitian akan berhasil apabila memiliki instrumen yang cukup dan tepat, sebab yang dipergunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian atau masalah dan menguji hipotesis semuanya akan diperoleh melalui instrumen. Menurut Arikunto (1996:151) instrumen penelitian adalah alat atau pasilitas yang digunkan oleh peneliti dalam mengumpulkan data-data agar lebih mudah untuk mendapatkan hasil yang lebih baik serta cermat, sistimatis dan mudah diolah.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka untuk memperoleh data mengenai tingkat kemampuan Mengidentifikasi Kesalahan Penyusunan Kalimat pada Teks Berita Yang Ditulis oleh Siswa Kelas VIII Semester II SMPN 3 Woja diperlukan instrumen yang tepat dan instrumen yang digunakan oleh peneliti ialah karangan.
a.      Teknik Pengumpulan data
Dalam mengumpulkan data dengan menggunakan karangan, peneliti akan melakukannya dengan cara meminta kepada siswa sebagai sumber data untuk mengidentifikasi Kesalahan Penyusunan Kalimat pada teks berita yang telah dipersiapkan oleh peneliti dengan ketentuan : pertama, kalimat yang dibuat harus benar susunan SPOK nya, kedua penggunaan imbuhan pada kalimat harus tepat dan ketiga kalimat itu harus tepat.
Kalimat-kalimat yang telah dibuat oleh siswa akan dinilai melalui segi ketepatan fungsi kata SPOK, ketepatan imbuhan dan kebenaran kalimat serta penulisan huruf dan tanda baca. Adapun skor nilai untuk satu kalimat adalah 10 dan dari 10 kalimat yang telah dibuat oleh siswa akan memiliki skor 100.
b.      Teknik Analisa Data
Data dari siswa yang berupa hasil tugas akan diolah dengan cara sebagai berikut :
1.        Proses Pengolahan Data
Dalam pengolahan data hasil kerja siswa, sebelum mengadakan penilaian terhadap hasil kerja siswa, peneliti telah menetapkan bahwa skor untuk semua kalimat 100. Untuk menetapkan nilai masing-masing peserta, skor dibagi bobot nilai. Bobot nilai yang dipakai oleh peneliti: 10, jadi apabila dimasukkan ke dalma rumus menjadi :
Jadi apabila kalimat yang dibuat oleh siswa semuanya benar, maka nilai yang diperoleh oleh siswa 10.
Setelah memberikan skor atas hasil kerja siswa dan memberikan nilai, kemudian peneliti akan memindahkan nilai yang diperoleh siswa ke dalam tabel kerja, untuk selanjutnya mengadakan pengujian hipotesis.
2.        Analisa Data
Metode analisa data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah analisa data dengan menggunakan rumus mean. Adapun rumusnya sebagai berikut :
M = S f x    
            N
Keterangan :
                  M       =  Mean
                  N        =  Jumlah individu yang diteliti
                  S f x   =  Total sekor seluruh individu


DAFTAR PUSTAKA

A Widya Martaya. Seni Menggayakan Kalimat. Kanisius. 1990.
Dedi Sugono. Berbahasa Indonesia Dengan Benar. Puspa Suara.
Departemen Agama RI. Kurikulum 2004: Pedoman Pengajaran Bahasa Indonesia. Direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam. 2004.
Wayan Nurkencana, Sumartana. Evaluasi Pendidikan. Usaha Nasional, Surabaya. 1986.
Suharsimi. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Bumi Aksara. Jakarta. 1991.
Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Pendidikan Praktik. PT. Rineka Cipta. Jakarta. 1997.
Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik edisi ke v. Rineka Cipta. Jakarta. 1997.
Tim Redaksi Hasan Alwi, Dedi Sugono. Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ke tiga. Pustaka Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Balai Pustaka. Jakarta. 2002.
Haryanto AG, Hartono Rusli Yanto, Datu Muliono. Metode Penulisan dan Penyajian Karya Ilmiah. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2000.
Jos Daniel Parera. Statistik. PT. Gramedia. Jakarta. 1988.
M. Muliono, Hasan Alwi, Sujono Dardjowidjojo, Hans Lapoliwa. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia edisi ke tiga. Balai Pustaka. Jakarta. 2000.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar